Piala Dunia 2014 Menjadi Pelajaran Kekuatan Empuk Yang Tak Cocok Rencana Bagi Brasil

FIFA World Cup 2014

Piala Dunia telah selesai dan alangkah beragamnya dampak untuk Brasil. Pusat kota Brasil untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia adalah sebuah kesempatan untuk mengindikasikan prestasi ekonomi mereka untuk dunia, menambah kebanggaan dan ekspos  negara tersebut.

Mereka selalu sukses menarik perhatian dunia, namun seringkali karena dalil yang baik. Dari protes di awal hingga kekalahan memalukan di akhir, sorotan sering menjadi positif. Tetapi turnamen ini pun telah dirayakan sebagai yang terbaik di antara yang terbaik karena  pertandingan-pertandingan yang hebat dan ini menggambarkan dengan baik pada tuan rumah.

Fuleco

Jelas usulan bahwa acara olahraga besar dapat dipakai sebagai katalis untuk pembangunan sosial dan untuk memburu tujuan dikenal oleh negeri lain sudah terwujud. Sejumlah turnamen besar baru-baru ini diselenggarakan oleh negara-negara berkembang terkemuka yang dikenal sebagai BRICS (Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan). Ada Olimpiade 2008 di Beijing, Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, Pesta Olahraga Persemakmuran 2010 di Delhi dan Olimpiade Musim Dingin 2014 di Sochi. Menempatkan Piala Dunia dan Olimpiade 2016 dan Paralympic Games yang bakal datang di Rio de Janeiro, Brasil bergabung dengan Meksiko, Jerman dan AS dalam kumpulan negara terpilih yang telah mengadakan dua acara besar ini dalam periode dua tahun.

 

Mengingat peristiwa-peristiwa ini sebelumnya adalah milik negara-negara maju, pementasannya dalam ekonomi BRICS ialah signifikan dan dapat dibilang menjadi penanda tatanan dunia yang muncul.

Yang mendasari analisis ini adalah konsep soft power, suatu istilah yang dibuat oleh Joseph S Nye untuk menggambarkan keterampilan suatu negara yang unik dan merayu tanpa kekuatan atau paksaan. Diplomasi olahraga merupakan tempat olahraga yang meluangkan platform informal guna dialog dan membangun keyakinan antar negara.

Arena olahraga pun dapat dipakai untuk menyoroti penambahan pertumbuhan ekonomi sebuah negara dan untuk menambah citra Brasil sebagai kekuatan yang hadir dengan kepentingan diplomatik relatif yang dapat menantang tatanan dunia yang telah mapan. Menjadi tuan rumah Piala Dunia, sebagai peluang untuk memperlihatkan kekuatannya di dalam dan di luar lapangan, karena ini bagian dari ambisi Brasil untuk diterima sebagai peserta aktif di panggung global.

Stereotip Brasil adalah salah satu karnaval, samba dan gairah. Negara ini identik dengan “permainan indah”, menyulap gambar dari kaos kuning dan hijau yang terkenal dan brand sepakbola yang mengasyikkan secara estetika yang sudah berkontribusi pada lima keberhasilan Piala Dunia. Dalam banyak hal, stereotip ini dibalik menjadi lebih baik. Tapi memori tentang penampilan final negara tuan rumah yang mengalami kekalahan memalukan di tangan Jerman dan Belanda dapat dibilang menodai sejarah sepakbola yang kaya.

Fifa World Cup

Piala Dunia 2014 Brazil Menjadi Sorotan Global

Menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014 melambungkan negara tersebut menjadi sorotan global, memberikan peluang unik untuk memperlihatkan Brasil sebagai kekuatan ekonomi yang baru muncul, serta memproyeksikan gambar dan pesan yang diharapkan ke semua dunia. Namun tontonan sebulan di Piala Dunia perlu disaksikan bersamaan dengan jalannya kisah alternatif, di antara dari ketidakadilan sosial, korupsi, tenggat masa-masa yang terlewati dan persiapan menit-menit terakhir yang heboh.

Tidak ada garansi pengembalian yang menguntungkan sebab pengeluaran infrastruktur publik dan juga tidak boleh melangsungkan Piala Dunia FIFA dan Olimpiade 2016 dirasakan sebagai jalan pintas untuk menambah reputasi sebuah negara. Realitas nyata dari penambahan turnamen ini dirusak oleh ketidakpuasan, pertentangan dan kerusuhan sipil.

Demonstrasi yang tersebar luas menyoroti sebanyak masalah di Brasil, tergolong masalah tata kelola dan inefisiensi, perpindahan, ketimpangan sosial ekonomi dan pengeluaran publik yang tidak butuh (ini merupakanPiala Dunia sangat mahal dalam sejarah turnamen). Tanda tanya pun tetap tentang sikap santai Brasil terhadap perencanaan, diintensifkan oleh laporan di mula turnamen yang mempertanyakan kesiapan stadion dan persiapan Rio yang dikutuk oleh IOC sebagai “yang terburuk”.

Mengingat sejauh mana soft power sudah mendominasi retorika upaya negara-negara berkembang untuk menjadi tuan rumah acara olahraga internasional, sorotan pada Brasil bisa jadi akan tetap untuk beberapa waktu. Keruntuhan 7-1 bersejarah dari segi Luiz Felipe Scolari melawan royalti sepakbola baru, Jerman, tidak bakal cepat terlupakan. Plus, tingkat perselisihan dalam negeri mengenai prioritas yang ditempatkan di turnamen terlepas dari begitu tidak sedikit masalah mendesak lainnya, tidak barangkali diencerkan dalam jangka panjang, terutama sebab persiapan guna Rio 2016 berlanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *